Wasiat Habib Umar bin Hafidh Soal Ramadlan

Sumber Ilmu - Wasiat Habib Umar bin Hafidh Soal Ramadlan

Bulan Ramadlan tinggal menghitung hari..di mana hari tersebut merupakan bulan yang sangat dirindukan oleh ummat Nabi Muhammad SAW yang di dalamnya penuh keberkahan dari bulan-bulan lainnya.
Marilah kita ikuti  Wasiat Al Allamah Alhabib Umar Bin Hafidh Dalam Menghadapi Bulan Ramadlan (Terjemahan dari wwww.habibomar.com ). Merupakan penyampaian dari Guru Mulia beliau Al Habib Umar bin Hafidh dalam ceramah beliau di akhir sya’ban 1436H ini, saya mengulas sebagian wasiat – wasiat Guru Mulia, bahwa seyogyanya ada 3 hal yang harus kita laksanakan di awal bulan Ramadlan ini, yaitu:
1. Gembira dan senang dengan datangnya bulan Ramadlan, sebagaimana firman Allah swt yang artinya:
“Katakanlah (wahai Muhammad saw) Dengan Datang-nya Anugerah Allah Dan Rahmat-Nya, Maka Dengan Itu Hendaknya Mereka Bergembira” (QS Yunus 58), dan juga Sabda Rasulullah saw yang artinya:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadlan dengan menjaganya dengan segenap kemampuannya, maka diampunilah seluruh dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari & Muslim).

Dan diriwayatkan oleh Salman ra, bahwa Rasulullah saw menyampaikan ceramahnya pada kami di hari terakhir bulan sya’ban :
“Wahai para manusia sekalian, telah menyelimuti kalian bulan Agung yang penuh keberkahan, bulan yang padanya suatu malam yang lebih mulia dari seribu bulan, Allah menjadikan puasa di bulan ini merupakan hal yang fardlu (wajib), dan menjadikan Qiyam (tarawih) merupakan hal yang sunnah, barangsiapa yang beribadah dengan satu macam kebaikan maka sama saja pahalanya dengan menjalankan ibadah yang fardlu, barangsiapa yang beribadah dengan hal yang fardlu maka seakan ia telah mengerjakan 70X hal fardlu tersebut, inilah (Ramadlan) merupakan bulan kesabaran, dan balasan atas kesabaran adalah Surga, inilah bulan kita saling membantu satu sama lain, inilah bulan dimana Allah menumpahkan rizki Nya bagi orang mukmin” (Hadits riwayat Imam Ibn Khuzaimah dalam shahih nya).
2. Menjaga diri dan berhati hati dari hal hal yang membuat kita terhalangi dan terusir dari kemuliaan Ramadlan, diantaranya adalah :
* Menjaga lidah kita dari berdusta dan menjaga pula perbuatan kita dalam kedustaan dan penipuan,
* juga ucapan ucapan buruk dan perbuatan buruk,
* dan dari berbuka puasa dengan makanan haram dan syubhat,
* dan dari perbuatan yang menjatuhkan pahala puasa seperti memandang aurat yang bukan muhrimnya,
* dan dari berdusta dan membicarakan aib orang lain,
* dan dari memutuskan hubungan silaturahmi,
* dan dari minum arak, ganja dan narkotika,
* dan dari dengki dan kebencian terhadap sesama muslimin, dan dari berbuat durhaka pada kedua orang tua.
Dan berhati – hatilah wahai mukimin dari berbuka puasa tanpa sebab yang jelas, Sabda Rasulullah saw yang artinya:
“Barangsiapa yang berbuka di hari Ramadlan tanpa sebab sakit, atau safar, atau udzur syar’I lainnya, maka tiadalah ia akan bisa membayarnya walaupun ia berpuasa sepanjang masa” (HR Tirmidzi, Nasa’I, Abu Daud, Ibn Maajah, Ibn Khuzaimah dan Imam Baihaqy).

Maka berhati – hatilah wahai mukmin dalam menjaga keadaan puasamu, dan jangan pula kau berbuka puasa sebelum yakin telah tiba waktunya, karena sunnah untuk bersegera dalam buka puasa adalah setelah yakin sepenuhnya telah masuk waktu berbuka puasa.
3. Yang terakhir adalah bersungguh – sungguh dalam menghadapi hujan anugerah di bulan mulia ini, dan bersungguh – sungguh mendapatkan anugerah berlipat gandanya berbagai pahala dan dibentangkannya kesempatan untuk meraih derajat yang agung. Telah bersabda Rasulullah saw :
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan bagi kalian berpuasa di siang harinya dan telah pulah mensunnahkan bagi kalian mendirikan shalat sunnah di malam harinya (tarawih), barangsiapa yang melakukan keduanya dengan keimanan dan kesungguhan, maka ia akan lepas dari seluruh dosanya sebagaimana saat ia baru dilahirkan oleh
ibunya” (HR Imam Nasa’i).

Maka seyogyanya kita memperbanyak berbagai amal ibadah di bulan mulia ini, terutama menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah, dan ketahuilah bahwa menjamu orang lain berbuka puasa merupakan hal yang agung pahalanya, sabda Rasulullah saw :
“Barangsiapa yang menyediakan buka puasa bagi yang berpuasa dibulan Ramadlan, maka diampuni seluruh dosanya, dan kebebasan baginya dari api neraka, dan ia mendapatkan pahala puasa tersebut” (HR Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya).

Sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang menyediakan buka puasa bagi orang yang berpuasa ramadhan dengan makanan dan minuman yang halal, maka akan bershalawatlah para Malaikat baginya sepanjang waktu Ramadlan, dan akan bershalawatlah padanya Malaikat Jibril dimalam Lailatulqadr” (Imam Thabrani).
Sabda Rasulullah saw : “Diberikan untuk ummatku dibulan Ramadlan lima hal yang tidak diberikan pada para Nabi sebelumku, yaitu :
– Saat malam pertama bulan Ramadlan, Allah memandangi mereka dengan iba dan kasih sayang Nya, dan barangsiapa yang dipandangi Allah dengan Iba dan Kasih Sayang Nya maka tak akan pernah disiksa selama selamanya,
– Yang kedua adalah aroma tak sedap dari mulut mereka di sore harinya lebih indah dihadapan Allah daripada wanginya Misk (bau tak sedap orang yang berpuasa akan menyusahkan mereka dan akan membuat mereka merasa terhina, namun balasan untuk keridhoan mereka karena hal yang tak mereka sukai dan perasaan terhina itu adalah justru di sisi Allah hal itu sangatlah mulia),
– yang ketiga adalah sungguh para malaikat memohonkan pengampunan dosa bagi mereka sepanjang siang dan malam,
– yang keempat adalah Allah memerintah kepada Surga seraya berfirman yang artinya: " Bersiaplah engkau (wahai surga), dan bersoleklah untuk menyambut hamba – hamba-Ku, aku iba melihat mereka, barangkali mereka mesti beristirahat karena kepayahan menghadapi kehidupan mereka di dunia untuk menuju Istana – Istana-Ku dan Megahnya Kedermawanan-Ku,
– yang kelima adalah ketika malam terakhir dibulan Ramadlan maka diampunilah bagi mereka seluruhnya, maka bertanyalah seorang sahabat :
" Apakah itu hadiah orang yang mendapatkan Lailatulqadr Wahai Rasulullah?, maka Rasul saw bersabda : “Tidak, bukankah bila kau melihat paraburuh bila selesai dari pekerjaannya harus segera dilunasi upahnya?” (HR Imam Baihaqi).
Maka ketahuilah bahwa Rasul saw bersungguh – sungguh dalam beribadah pada bulan Ramadlan, lebih dari kesungguhannya di bulan lain, dan Rasul saw sangat teramat bersungguh – sungguh dalam beribadah di 10 malam terakhir Bulan Ramadlan lebih dari kesungguhannya di hari – hari Ramadlan lainnya, Maka berpanutlah pada Imam mu Nabi Muhammad saw, janganlah tertipu dengan mengikuti kebiasaan sebagian orang yang bersungguh – sungguh di awalnya dan bermalas – malasan di akhirnya, karena kemuliaan justru berpuncak pada akhirnya.
Wahai Allah perkenankan kami melewati kemuliaan Ramadlan, berpuasa dan menegakkan bermacam – macam amal mulia padanya, dari pembacaan Al Qur’an dan bertafakkur atas maknanya, serta menyambung silaturahmi serta berbuat baik dengan tetangga, dan selamat dari segala hal yang memnghalangi kami dari kemuliaannya, dan shalawat serta salam atas sang Nabi dan keluarga serta sahabatnya
walhamdulillahirabbil’alamiin… amiin.


Mohon maaf apabila ditulisan ini hadits dan ayatnya tidak ada lafadh arabnya, soalnya tulisan saya ambil dari facebook, dan memang tidak menyertakan tulisan arabnya.
Baca juga:
Kumpulan Hadits Mengenai Bulan Puasa Ramadlan
Sarkub Ahlus Sunnah Wal Jama'ah Ala NU apa Syi'ah?

Anda sedang membaca Artikel mengenai Wasiat Habib Umar bin Hafidh Soal Ramadlan http://mughits-sumberilmu.blogspot.com/2015/06/wasiat-habib-umar-bin-hafidh-soal.html Anda boleh Copy serta Share Artikel Wasiat Habib Umar bin Hafidh Soal Ramadlan ini kepada teman anda, serta letakkan Link Wasiat Habib Umar bin Hafidh Soal Ramadlan sebagai Sumbernya Terima Kasih.