Bahaya Belajar Tauhid atau Tashawwuf Melalui Internet atau Buku

Sumber Ilmu - Bahaya Belajar Tauhid atau Tashawwuf Melalui Internet atau Buku
Kalau saya lihat di situs situs muslim, baik yang berpaham Ahlus Sunnah Wal Jama'ah atau yang berpaham Wahabi, Syi'ah atau aliran lain yang keluar dari Paham Ahlus Sunnah Wal Jama'ah banyak sekali terdapat artikel yang menjelaskan mengenai tauhid.
Sebenarnya hal itu sangat bahaya.
Ilmu Tauhid tidak bisa dipelajari sendiri melalui buku atau tulisan, karena saat seperti itu sangat rawan dibisiki setan untuk menjerumuskan pemikiran yang tidak seharusnya ditujukan kepada Allah.

Kalau kita lihat bagaimana caranya para shahabat mengaji kepada Rasulullah SAW, maka kita juga akan banyak menjumpai cara ngaji yang bersifat langsung, tidak melalui media tulisan. seperti juga yang sudah dicontohkan oleh Malaikat Jibril saat menanyakan mengenai Iman dan Islam kepada Rasulullah SAW.

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .
[رواه مسلم]
Arti hadits / ترجمة الحديث :
Dari Umar radliallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadlan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.
(Riwayat Muslim)

Sebenarnya masih banyak hadits-hadits yang lain yang menjelaskan mengenai mengaji yang caranya ialah dengan berhadap-hadapan (musyafahah), dan termasuk mengenai mengaji qira'ahtul qur'an.

Karena ilmu agama ini adalah ilmu peribadatan yang pertanggung jawabannya langsung kepada Allah SWT maka harus benar sesuai dengan perintah Allah dan Sunnah Rasulullah dan tidak boleh dikira-kira atau disesuaikan dengan akal pikirannya sendiri. Kalau amal ibadah itu benar sesuai dengan perintah Alloh dan sunnah Rasulullah maka akan diterima dan dapat pahala. Sebaliknya apabila amal tersebut salah maka ditolak dan dapat dosa. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW.
اتَّقُوا الْحَدِيثَ عَنِّي إِلَّا مَا عَلِمْتُمْ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ وَمَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Adapun gambarannya antara orang yang manqul dengan orang yang tidak manqul seperti seseorang yang diperintah untuk mengambil jarum di dalam sebuah rumah yang di dalam rumah itu terdapat puluhan kamar dan di dalam kamar terdapat puluhan lemari dan di dalam lemari terdapat beberapa laci dan di dalam laci terdapat puluhan jarum.
Musnad,artinya secara harfiah/lughat adalah bersandaran. Adapun pengertiannya adalah harus diketahui secara jelas siapa sumber dari ilmu agama yang kita kerjakan atau kita pedomani, sehingga ilmu tersebut dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, tidak ngawur, tidak hanya sebagai "katanya-katanya" saja. Di dalam muqoddimah Shahih Muslim, salah seorang gurunya yang bernama Abdullah bin Mubarak berkata :
الْإِسْنَادُ مِنْ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
Mutashil, artinya bersambung. Mengandung pengertian bahwa ilmu yang di dapat bersumber dari Rosulullah yang diajarkan secara bersambung tidak terputus sampai kepada orang terakhirnya yang menerimanya. Buktinya mutashil ditandai dengan adanya isnad yang jelas.
Maka dapat digambarkan bahwa belajar agama dengan cara Manqul Musnad Mutashil itu sebagaimana mengambil air langsung dari sumbernya dengan dialirkan melalui pipa-pipa yang tersambung, walaupun jaraknya jauh namun air yang diterima terjamin kebersihan dan kemurniannya.
Sebaliknya mempelajari ilmu agama tanpa manqul musnad muttashil seperti mengambil air, walaupun air tersebut berasal dari sumbernya yang jernih dan bersih namun karena tidak melalui pipa-pipa yang tersambung maka air yang diterima tidak bisa dijamin kebersihan dan kemurniannya.

Ulama juga banyak menjelaskan ketidak shah-an mengaji melalui kitab tanpa guru, karena mengaji seperti itu namanya tidak bersanad, walaupun yang paling banyak hanya memberi lingkup kepada 3 ilmu saja, yaitu:
1. Ilmu Tauhid atau Tashawwuf
2. Ilmu Hikmah
3. Ilmu Qira'atul Qur'an

Dan apabila hanya sebagai tambahan, alias orang yang mengaji atau membaca kitab tersebut memang ilmunya sudah cukup, maka hal itu masih bisa dima'fu. namun sulitnya, banyak orang yang menganggap dirinya sudah cukup, dan sungguh hal itu adalah keadaan yang dilandasi oleh kesombongan.

Disini saya menjelaskan hal ini bukannya saya mengharamkan internet untuk mendapatkan Ilmu, namun pilahlah ilmu yang anda kaji, dan pilihlah siapa yang sedang anda ambil ilmunya.
Seperti yang sudah sama sama kita ketahui, bahwa di dunia maya ini sangat banyak situs situs kelompok aliran islam yang keluar dari Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, contoh gampangnya adalah Wahabi dan Syi'ah, apabila anda tidak memiliki ilmu yang cukup, terus mengaji melalui internet dan ternyata anda mengajinya kepada orang Syi'ah atau Wahabi, maka anda nantinya bisa mempunyai paham seperti mereka. bisa saja nanti anda malah membolehkan mengabung shalat fardlu pada satu waktu. atau menghalalkan dusta demi menjaga aliran. mengkafirkan golongan lain yang tidak sepaham dengan anda. mengharamkan apa yang tidak diharamkan oleh Allah dan rasulNya. membid'ahkan Maulid, Tahlil dan hal lainnya yang ada landasannya dari Qur'an dan hadits sesuai dengan tafsir para Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama'ah.
(Baca juga: Definisi Ahlus Sunnah Wal Jama'ah)

Bisa dima'fu juga membuat tulisan mengenai tauhid karena untuk membantah tulisan tauhid yang tidak sesuai dengan Paham Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. seperti menulis artikel mengenai keadaan Allah dan menjelaskan Allah, bahwa Allah itu ada akan tetapi tidak sama dengan Makhluknya. karena saya sendiri banyak mendapati tulisan kaum wahabi yang membahas mengenai Dzat Allah, dan menyamakan Allah dengan Makhluknya, bahkan Allah dikatakan mempunyai tangan dan wajah. sungguh ini kesesatan yang nyata. paham seperti itu adalah paham kaum mujassim.
Dan kalau sampai ada tulisan seperti itu dibaca oleh anak kecil, maka kemungkinan besar, si anak tersebut akan bermain dengan imajinasinya sendiri, dan tidak menutup kemungkinan, beranggapan Allah itu begitu dan begitu sesuai dengan imajinasinya sendiri yang sebenarnya keluar dari keberadaan Allah yang sebenarnya.

Dari tulisan saya ini, saya berharap para kaum muslimin yang membaca tulisan ini bisa lebih bijak dalam membaca tulisan, baik dalam fan ilmunya, atau mengenai sang penulisnya sendiri.
Sekian dari saya. Wa'allahu A'lam.

Profil dan Sedikit Sejarah Keberanian Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Melawan Penguasa Wahabi

Sumber Ilmu - Profil dan Sedikit Sejarah Keberanian Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Melawan Penguasa Wahabi

As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki adalah salah seorang ulama Islam dari Arab Saudi. Dilahirkan pada tahun 1365H atau 1946M di kota Mekkah. Ia berasal dari keluarga Al-Maliki Al-Hasani yang terkenal. Ayahnya adalah As-Sayyid Alawi, seorang ulama terkemuka di Mekkah dan merupakan salah satu penasihat Raja Faisal, raja Arab Saudi. Di bawah bimbingan ayahnya, sejak kecil ia sudah belajar Al-Quran. Ayahnya wafat pada tahun 1971.

Sayyid Muhammad wafat pada hari Jumat, 15 Ramadlan di Mekkah. Ia dimakamkan di sebelah makam ayahnya dan Sayyidah Khadijah.

Dia telah meninggalkan kita pada hari Jumaat, 15 Ramadlan (bersesuaian dengan doanya untuk meninggal dunia pada bulan Ramadlan), dalam keadaan berpuasa di rumahnya di Makkah. Kematiannya amat mengejutkan. Ucapan takziah diucapkan dari seluruh dunia Islam. Salat jenazah dia dilakukan di seluruh pelusuk dunia. Dia telah pergi pada bulan Ramadlan dan pada hari Jumat.

Sholat jenazah pertama di rumah dia diimamkan oleh adiknya As-Sayyid Abbas, dan seterusnya di Masjidil Haram dengan Imam Subayl, ratusan ribu manusia membanjiri upacara pengebumiannya. Dia dimakamkan di sebelah bapaknya, berhampiran maqam dengan Sayyidah Khadijah. Sebelum dia meninggal dunia, dia ada menghubungi seorang pelajar lamanya di Indonesia melalui telepon dan bertanyanya adakah dia akan datang ke Mekkah pada bulan Ramadlan. Apabila dia menjawab tidak, Sayyid Muhammad bertanya pula, “tidakkah engkau akan menghadiri penegebumianku?”

Nasab
Keluarga Keturunan Sayyid merupakan keturunan mulia yang bersambung secara langsung dengan Nabi Muhammad. Dia merupakan waris keluarga Al-Maliki Al-Hasani di Mekkah yang masyhur yang merupakan keturunan Rasulullah, melalui cucunya, Imam Al-Hasan bin Ali, Radhiyallahu ‘Anhum.

Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki (ayah)
Sayyid Abbas Al Maliki bin Abdul Aziz Al Maliki (kakek)
Abdul Aziz Al Maliki (ayah kakek)

Aktivitas Mengajar
Adapun pelajaran yang di berikan baik di masjid haram atau di rumah dia tidak berpoin kepada ilmu tertentu seperti di Universitas. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa di terima semua masyarakat baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Maliki. Maka dari itu dia selalu menitik-beratkan untuk membuat rumah yang lebih besar dan bisa menampung lebih dari 500 murid per hari yang biasa dilakukan selepas sholat Maghrib sampai Isya di rumahnya di Hay al Rashifah. Begitu pula setiap bulan Ramadan dan hari raya dia selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua di sisinya sama tamu-tamu dan murid murid, semua mendapat penghargaan yang sama dan semua mencicipi ilmu bersama-sama.

Dari rumah dia telah keluar ulama-ulama yang membawa panji Rasulallah ke suluruh pelosok permukaan bumi. Di mana negara saja kita dapatkan murid dia, di India, Pakistan, Afrika, Eropa, Amerika, apa lagi di Asia yang merupakan sebagai orbit dahwah sayid Muhammad Almaliki, ribuan murid murid dia yang bukan hanya menjadi kyai dan ulama akan tetapi tidak sedikit dari murid2 dia yang masuk ke dalam pemerintahan.

Di samping pengajian dan taklim yang rutin di lakukan setiap hari pula dia telah berusaha mendirikan pondok yang jumlah santrinya tidak sedikit, semua berdatangan dari seluruh penjuru dunia, belajar, makan, dan minum tanpa di pungut biaya sepeser pun bahkan dia memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah beberapa tahun belajar para santri dipulangkan ke negara-negara mereka untuk menyiarkan agama.

Sayid Muhammad Almaliki dikenal sebagai guru, pengajar dan pendidik yang tidak beraliran keras, tidak berlebih-lebihan, dan selalu menerima hiwar dengan hikmah dan mauidhah hasanah.thariqahnya.

Dalam kehidupannya dia selalu bersabar dengan orang-orang yang tidak bersependapat baik dengan pemikirannya atau dengan alirianya. Semua yang berlawanan diterima dengan sabar dan usaha menjawab dengan hikmah dan menklirkan sesuatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Dia tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya dan ini memang yang di inginkan musuh Islam. Sampai-sampai dia menerima dengan rela digeser dari kedudukannya baik di Universitas dan ta'lim dia di masjidil Haram. Semua ini dia terima dengan kesabaran dan keikhlasan bahkan dia selalu menghormati orang orang yang tidak bersependapat dan sealiran dengannya, semasih mereka memiliki pandangan khilaf yang bersumber dari al-Quran dan Sunah. Adapun ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki, mereka pintar-pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup untuk dijadikan marja' dan reference di negara-negara mereka. Dia ingin mengangkat derajat dan martabat Muslimin menjadi manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan serta pikiran dan perasaannya. Dia adalah orang cerdas dan terpelajar, berani dan jujur serta adil dan cinta kasih terhadap sesama. Itulah ajaran utama Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki. Dia selalu menerima dan menghargai pendapat orang dan menghormati orang yang tidak sealiran dengannya atau tidak searah dengannya.

Karya tulis
Di samping tugas dia sebagai da'i, pengajar, pembibing, dosen, penceramah dan segala bentuk kegiatan yang bermanfaat bagi agama, dia pula seorang pujangga besar dan penulis unggul. Tidak kurang dari 100 buku yang telah dikarangnya, semuanya beredar di seluruh dunia. Tidak sedikit dari kitab2 dia yang beredar telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris, Prancis, Urdu, Indonesia dll.

Sayyid Muhammad merupakan seorang penulis prolifik dan telah menghasilkan hampir seratus buah kitab. Dia telah menulis dalam pelbagai topik agama, undang-undang, social serta sejarah, dan kebanyakan bukunya dianggap sebagai rujukan utama dan perintis kepada topik yang dibicarakan dan dicadangkan sebagai buku teks di Institusi-institusi Islam di seluruh dunia. Kita sebutkan sebahagian hasilnya dalam pelbagai bidang:

Aqidah:

Mafahim Yajib an Tusahhah
Manhaj As-salaf fi Fahm An-Nusus
At-Tahzir min at-Takfir
Huwa Allah
Qul Hazihi Sabeeli
Sharh 'Aqidat al-'Awam
Tafsir:

Zubdat al-Itqan fi 'Ulum al-Qur'an
Wa Huwa bi al-Ufuq al-'A'la
Al-Qawa'id al-Asasiyyah fi 'Ulum al-Quran
Hawl Khasa'is al-Quran
Hadith:

Al-Manhal al-Latif fi Usul al-Hadith al-Sharif
Al-Qawa'id al-Asasiyyah fi 'Ilm Mustalah al-Hadits
Fadl al-Muwatta wa Inayat al-Ummah al-Islamiyyah bihi
Anwar al-Masalik fi al-Muqaranah bayn Riwayat al-Muwatta lil-Imam Malik
Sirah:

Muhammad (Sallallahu Alaihi Wasallam) al-Insan al-Kamil
Tarikh al-Hawadith wa al-Ahwal al-Nabawiyyah
'Urf al-Ta'rif bi al-Mawlid al-Sharif
Al-Anwar al-Bahiyyah fi Isra wa M'iraj Khayr al-Bariyyah
Al-Zakha'ir al-Muhammadiyyah
Zikriyat wa Munasabat
Al-Bushra fi Manaqib al-Sayyidah Khadijah al-Kubra
Usul:

Al-Qawa'id al-Asasiyyah fi Usul al-Fiqh
Sharh Manzumat al-Waraqat fi Usul al-Fiqh
Mafhum al-Tatawwur wa al-Tajdid fi al-Shari'ah al-Islamiyyah
Fiqh:

1. Al-Risalah al-Islamiyyah Kamaluha wa Khuluduha wa 'Alamiyyatuha 2. Shawariq al-Anwar min Ad'iyat al-Sadah al-Akhyar 3. Abwab al-Faraj 4. Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar 5. Al-Husun al-Mani'ah 6. Mukhtasar Shawariq al-Anwar

Lain-lain:

1. Fi Rihab al-Bayt al-Haram (Sejarah Makkah) 2. Al-Mustashriqun Bayn al-Insaf wa al-'Asabiyyah (Kajian Berkaitan Orientalis) 3. Nazrat al-Islam ila al-Riyadah (Sukan dalam Islam) 4. Al-Qudwah al-Hasanah fi Manhaj al-Da'wah ila Allah (Teknik Dawah) 5. Ma La 'Aynun Ra'at (Butiran Syurga) 6. Nizam al-Usrah fi al-Islam (Peraturan Keluarga Islam) 7. Al-Muslimun Bayn al-Waqi' wa al-Tajribah (Muslimun, Antara Realiti dan Pengalaman) 8. Kashf al-Ghumma (Ganjaran Membantu Muslimin) 9. Al-Dawah al-Islahiyyah (Dakwah Pembaharuan) 10. Fi Sabil al-Huda wa al-Rashad (Koleksi Ucapan) 11. Sharaf al-Ummah al-Islamiyyah (Kemulian Ummah Islamiyyah) 12. Usul al-Tarbiyah al-Nabawiyyah (Metodologi Pendidikan Nabawi) 13. Nur al-Nibras fi Asanid al-Jadd al-Sayyid Abbas (Kumpulan Ijazah Datuk dia, As-Sayyid Abbas) 14. Al-'Uqud al-Lu'luiyyah fi al-Asanid al-Alawiyyah (Kumpulan Ijazah Bapa dia, As-Sayyid Alawi) 15. Al-Tali' al-Sa'id al-Muntakhab min al-Musalsalat wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah) 16. Al-'Iqd al-Farid al-Mukhtasar min al-Athbah wa al-Asanid (Kumpulan Ijazah)[2]

Catatan diatas adalah kitab As-Sayyid Muhammad yang telah dihasilkan dan diterbitkan. Terdapat banyak lagi kitab yang tidak disebutkan dan juga yang belum dicetak.Kita juga tidak menyebutkan berapa banyak karya tulis yang telah dikaji, dan diterbitkan untuk pertama kali, dengan ta'liq (catatan kaki) dan komentar dari As-Sayyid Muhammad. Secara keseluruhannya, sumbangan As-Sayyid Muhammad amat agung.Banyak hasil kerja As-Sayyid Muhammad telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa.

Mafahim Yujibu an-Tusahha
Mafahim Yujibu an-Tusahhah (Konsep-konsep yang perlu diluruskan) adalah salah satu kitab karya Sayyid Muhammad, red.) bersinar layaknya suatu kemilau mutiara. Inilah seorang manusia yang menantang rekan-rekan senegaranya, kaum Salafi-Wahhabi, dan membuktikan kesalahan doktrin-doktrin mereka dengan menggunakan sumber-sumber dalil mereka.

Untuk keberanian intelektualnya ini, Sayyid Muhammad dikucilkan dan dituduh sebagai "seorang yang sesat". Dia pun dicekal dari kedudukannya sebagai pengajar di Haram (yaitu di Masjidil Haram, Makkah, red.). Kitab-kitab karya dia dilarang, bahkan kedudukan dia sebagai professor di Umm ul-Qura pun dicabut. Dia ditangkap dan passport-nya ditahan. Namun, dalam menghadapi semua hal tersebut, Sayyid Muhammad sama sekali tidak menunjukkan kepahitan dan keluh kesah. Dia tak pernah menggunakan akal dan intelektualitasnya dalam amarah, melainkan menyalurkannya untuk memperkuat orang lain dengan ilmu (pengetahuan) dan tasawwuf.

Pada akhir hayatnya yang berkenaan dengan adanya kejadian teroris di Saudi Arabia, dia mendapatkan undangan dari ketua umum Masjidil Haram Syeikh sholeh bin Abdurahman Alhushen untuk mengikuti "Hiwar Fikri" di Makkah yang diadakan pada tg 5 sd 9 Dhul Q'idah 1424 H dengan judul "Al-qhuluw wal I'tidal Ruya Manhajiyyah Syamilah", di sana dia mendapat kehormatan untuk mengeluarkan pendapatnya tentang thatarruf atau yang lebih poluler disebut ajaran yang beraliran fundamentalists atau extremist. Dan dari sana dia telah meluncurkan sebuah buku yang popular dikalangan masyarakat Saudi yang berjudul "Alqhuluw Dairah Fil Irhab Wa Ifsad Almujtama". Dari situ, mulailah pandangan dan pemikiran dia tentang da'wah selalu mendapat sambutan dan penghargaan masyarakat luas.

Pada tanggal 11/11/1424, dia mendapat kesempatan untuk memberikan ceramah di hadapan wakil raja Amir Abdullah bin Abdul Aziz yang isinya dia selalu menggaris-bawahi akan usaha menyatukan suara ulama dan menjalin persatuan dan kesatuan da'wah.

Wafat
Dia wafat hari Jumat tanggal 15 Ramadlan 1425 dan dimakamkan di pemakaman Al-Ma'la di samping kuburan istri Rasulullah Sayyidah Khadijah binti Khuwailid ra. Dan yang menyaksikan penguburan dia seluruh ummat muslimin yang berada di Makkah pada saat itu termasuk para pejabat, ulama, para santri yang datang dari seluruh pelosok negeri, baik dari luar Makkah atau dari luar negeri.

Semuanya menyaksikan hari terakhir dia sebelum disemayamkan, semua menyaksikan janazah dia setelah disembahyangkan di Masjidil Haram ba'da sholat isya yang dihadiri oleh tidak kurang dari sejuta manusia. Begitu pula selama tiga hari tiga malam rumahnya terbuka bagi ribuan orang yang ingin mengucapkan belasungkawa dan melakukan `aza'. Dan di hari terakhir `Aza, wakil Raja Saudi, Amir Abdullah bin Abdul Aziz dan Amir Sultan datang ke rumah dia untuk memberikan sambutan belasungkawa dan mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin agama yang tidak bisa dilupakan ummat.

Keberanian Sejati Sayyid Muhammad Al Maliki RA Menghadapi Pemerintahan Saudi

“Al Jannah Ma Hi Balasy” (Surga Tidak gratis) dan “Ala Roqobatii Ma Uwaqqi” (Aku Tidak akan Tanda tangan Walau Leher Taruhannya).
Kalimat yang pertama diatas dikatakan oleh as Sayyid Muhammad al Maliki, Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah Abad ini, yang oleh murid-murid dan pencintanya beliau akrab dipanggil “Abuya”. Bagi murid-murid dan pencinta beliau, mutu manikam ini sudah tidak asing lagi. Mengingat asbabul wurud dan moment keluarnya kalimat tersebut dari lisan Abuya Sayyid Muhammad sungguh sangat fenomenal.
Konon, kalimat tersebut diucapkan oleh Abuya Sayyid Muhammad ketika beliau sudah diputuskan untuk di “i’dam” (hukum penggal) oleh pemerintah Saudi, sebagai negeri asal beliau. Menurut penuturan dari santri-santri senior beliau, ketika itu, sekitar tahun 70-an beliau mendapat panggilan dari Raja Saudi, ketika itu masih Raja Fahad bin Abdul Aziz. Kertas surat panggilannya berwarna merah. Semua masyarakat Saudi tahu bahwa jika ada penduduk Saudi dipanggil pemerintah dengan suratpanggilan berwarna merah, pasti yang bersangkutan di i’dam atau paling tidak kalau memang tidak di i’dam, dipenjara.
Sebelum memenuhi panggilan Raja, Abuya Sayyid Muhammad memerintahkan kepada murid-muridnya untuk membacakan aurad dan adzkar untuk keselamatan beliau. Murid-murid beliau yang biasanya setiap hari tiada henti belajar, saat itu kegiatan belajar mengajar di Masyru’ nya (Masyru': istilah untuk pesantren Abuya) dihentikan. Hanya diisi dengan aurad dan adzkar saja. Dan saat itu beliau senantiasa berwasiat kepada santri-santrinya agar mereka tetap teguh dan tidak goyah untuk meneruskan perjuangan beliau, jika beliau dalam waktu dekat sudah tidak lagi bersama mereka. Sehari sebelum diwajibkannya Abuya Sayyid Muhammad menghadap Raja, beliau sudah berada di Riyadl, sebagai ibu kota Saudi Arabia.
Tepat pada hari dimana Abuya Sayyid Muhammad diwajibkan datang ke Istana Raja, Beliau dijemput oleh Amir Salman (yang saat ini sudah menjadi Raja Saudi). Sebagai catatan, bahwa saat itu jika ada penduduk Saudi yang ada masalah dengan pemerintah Saudi dan diputuskan untuk di i’dam, pasti Salman yang mengurusnya.
Pertama kali Salman bertemu Sayyid Muhammad, dia langsung berkata kepada Sayyid Muhammad, “Ya Muhammad, jika ada penduduk Saudi dipanggil pemerintah menggunakan kertas merah dan saya yang mengurusinya, tentu kamu sudah tahu mau diapakan orang tersebut”, Salman bermaksud menggertak dan mengkerdilkan hati Abuya Sayyid Muhammad.
Akan tetapi, digertak seperti itu, Abuya Sayyid Muhammad sama sekali tidak gentar. Mendengar Ucapan Salman itu, justru Abuya Sayyid Muhammad malah seperti “macan dibangunkan dari tidurnya”. Saat itulah beliau menjawab, “AL JANNAH MA HI BALASY, YA SALMAN” (Surga tidak gratis, ya Salman). Allah Akbar. Sebuah kalimat yang benar-benar mencerminkan keberanian pengucapnya.
Singkat cerita, entah apa yang terjadi pada Raja Fahad, akhirnya hari itu Sayyid Muhammad tidak jadi bertemu dengan Raja Fahad, karena Fahad akan bepergian ke luar negeri. Dan Abuya Sayyid Muhammad sudah diperbolehkan pulang ke Makkah. Semua heran atas sikap Fahad yang langsung berubah 360 derajat. Apakah benar dia urung meng- “i’dam” Sayyid Muhammad hanya karena lantaran dia sibuk akan bepergian atau entah karena sebab yang lain, wallahu a’lam.
Sampai sekarang tidak ada yang mengetahui penyebabnya.Tetapi, mendengar bahwa Raja urung menemui Abuya Sayyid Muhammad dan Sayyid Muhammad sudah diperbolehkan pulang ke Makkah, lagi-lagi Abuya Sayyid Muhammad semakin menunjukkan kejantanannya. “Saya datang ke Riyadl karena dipanggil Raja. Dan saya tidak akan kembali ke Makkah kalau masih belum bertemu Raja. Atau paling tidak aku harus bertemu Raja walau hanya sebentar. Kalau tidak, aku akan menunggu Raja sampai dia kembali ke Saudi. Pokoknya, aku harus bertemu Raja. Sebab aku ke Riyadl karena dipanggil Raja”, demikian Abuya Sayyid Muhammad menunjukkan kejantanannya kepada Salman.
Abuya Bersama King Fahd

Dihaturkanlah perkataan Abuya Sayyid Muhammad kepada Raja. Dan akhirnya Raja Fahad memberikan waktu sebentar di Bandara untuk bertemu dengan Abuya Sayyid Muhammad, sesaat sebelum naik pesawat. Pertemuan itu diabadikan dalam sebuah foto fenomenal yang sampai sekarang sering kita lihat. Dimana difoto itu Sayyid Muhammad dan Raja Fahad sama-sama duduk di kursi.

Kalau kita cermati foto tersebut, ekspresi beliau berdua sudah sangat mewakili suasana saat itu. Tegang. Ya, kesan tegang itulah yang akan kita tangkap dari suasana saat itu. Konon, saat beliau akan kembali ke Makkah, bukannya beliau malah terkena hukuman, tapi justru beliau diberi hadiah oleh Raja Fahad. Mungkin hal itu dilakukan oleh Fahad, karena katakjubannya akan keberanian Abuya Sayyid Muhammad.
Saat ini perjuangan Sayyid Muhammad diteruskan oleh putra beliau, as Sayyid Ahmad. Beliau oleh para murid dan pencintanya juga akrab disapa dengan”Abuya”. Keteguhan serta kejantanan Abuya Sayyid Ahmad juga tak ubahnya Abuya Sayyid Muhammad.
Tahun 2006 Abuya Sayyid Ahmad mengadakan Maulid besar-besaran. Dimana jamaah yang hadir saat itu bukan hanya dari Makkah saja. Ahli Madinah dan Thoif juga banyak yang hadir. Dari luar negeripun juga banyak yang hadir. Bahkan ruang”qo’ah” (ruang aula) di Masyru’ beliau saat itu sampai tidak mampu menampung hadirin.
Seminggu setelah maulidan besar-besaran itu, Abuya Sayyid Ahmad juga dipanggil pemerintah. Seperti Abahnya ketika dipanggil raja, kita yang biasanya setiap hari disibukkan dengan pelajaran, saat itu Abuya Sayyid Ahmad memerintahkan kita untuk menghentikan pelajaran. Siang dan malam hanya kita isi dengan “Sholat Hasbanah”, aurad dan ahzab.Pas dihari pemanggilan Abuya Sayyid Ahmad, dari pagi kita sudah kumpul di “qo’ah”, melaksanakan Sholat Hasbanah, membaca aurad dan ahzab.
Ba’da Dzuhur Abuya Sayyid Ahmad datang dan langsung memerintahkan kita untuk berkumpul di kelas. Tidak tertangkap dari ekspresi wajah Abuya Sayyid Ahmad dan semua dari kita kecuali perasaan tegang.
Mulai Abuya Sayyid Ahmad menceritakan kejadian saat beliau diinterograsi. Kata Abuya, “anak-anakku…tadi aku dipaksa untuk menanda tangani surat pernyataan untuk tidak mengadakan Maulidan lagi. Tadi aku jawab mereka dengan jawaban demikian, ‘ALA ROQOBATII MA UWAQQI’ (taruhan leherku, aku tidak akan menanda tangani)!”. Allahu Akbar.
Beliau kemudian melanjutkan ceritanya, sedang kita semua sangat tegang, “ya aulaadii, kata yang mengiterograsi aku tadi, aku masih akan dipanggil lagi. Jika aku tidak lagi bersama kalian, maka tolong teruskan perjuangan ini. Jangan kalian putus perjuangan ini hanya karena tidak ada aku”, begitu dawuh Abuya, yang membuat mata kita saat itu berkaca-berkaca. Bahkan banyak dari kawan-kawan saat itu sampai sesenggukan. Tidak tega dengan apa yang dialami Abuya Ahmad, sekaligus dipenuhi perasaan mencekam. Dan sampai sekarang Abuya Ahmad tetap tidak berkenan untuk menanda tangani pernyataan untuk tidak lagi mengadakan maulidan.
Semenjak itu, orang-orang sepuh Makkah sering mentahbis beliau dengan sebuah pameo, “hadza as syibl min dzak al asad” (anak singa ini dari singa yang itu). Tapi bagi kami beliau bukan hanya seperti itu. Bagi kami, beliau adalah “hadza al asad min dzak al asad” (singa ini dari singa yang itu).
Sungguh keberanian yang menggetarkan semesta. Sungguh kejantanan yang terwarisi dari kakek beliau berdua, Habibuna Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh keberanian yang terwarisi oleh lisan yang mengucap “Allaah. Allaah. Allaah” dihadapan Du’tsur ketika si Du’tsur menghunuskan pedang ke lehernya seraya berkata,”Sekarang, siapa yang bisa menyelematkan engkau dari aku, hai Muhammad?”, dan terjatuhlah pedang Du’tsur tersetrum oleh kalimat yang terhentak dari lisan pemimpin para pemberani itu, Habibuna Muhammad. Meskipun kita tidak bisa mentauladani syaja’ah istimewa ini seratus persen, semoga kita masih terciprati sedikit sifat syaja’ah beliau.
Ditulis oleh : KH. Muhammad Hasan Abd. Muiz, Pengasuh pesantren Sayyid Muhammad Alawi al Maliki Bondowoso, alumni Abuya Sayyid Muhammad al maliki angkatan 2006-2013.

Sumber: »  http://www.nugarislurus.com/2015/09/keberanian-sejati-sayyid-muhammad-al-maliki-ra-menghadapi-pemerintahan-saudi.html#ixzz3mTjQjMq6
https://id.wikipedia.org/wiki/Sayyid_Muhammad
Sekian "Profil dan Sedikit Sejarah Keberanian Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Melawan Penguasa Wahabi" Semoga Sejarah Beliau dan bisa menambah keimanan kita dan memberikan motivasi buat kita untuk tetap kuat dalam berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan Hadits dan bertahan dari fitnah-fitnah Sekte Salafi-Wahabi, Syi'ah dan aluran aliran sesat lainnya.